Tojo Una-una   — Listrik mati berjam-jam, menyala sebentar, lalu padam kembali hingga menjelang subuh. Kondisi ini membuat warga Ampana, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, semakin geram. Sejak akhir September 2026, keluhan terhadap pelayanan PLN ULP Ampana terus bermunculan di media sosial.Selasa (13/10/2026)

Bagi masyarakat, persoalannya bukan lagi sekadar lampu padam. Yang dipertanyakan ialah sampai kapan pelanggan harus bertahan dengan pasokan listrik yang tidak menentu, sementara penjelasan konkret mengenai penyebab gangguan dan langkah penyelesaiannya belum disampaikan secara terbuka.

Kalau pemeliharaan terus dijadikan alasan, warga pun mempertanyakan apa yang sebenarnya diperbaiki, berapa lama mereka harus menunggu, dan apa jaminan listrik tidak kembali padam setelah menyala.

“Jangan cuma bilang pemeliharaan, tapi torang butuh bukti perbaikan dan kepastian listrik menyala normal,” tegas warga.

Menurut warga, pemadaman listrik berjam-jam bukan persoalan sepele. Aktivitas rumah tangga terganggu, pelaku usaha kecil kelimpungan menghadapi risiko kerugian, dan perputaran ekonomi masyarakat ikut terganggu.

Tak sedikit warga yang harus menanggung kerugian, mulai dari bahan makanan yang disimpan di dalam kulkas hingga membusuk, sampai peralatan elektronik yang dikhawatirkan rusak akibat listrik yang mati-hidup berulang kali.

Warga Mulai Kehilangan Kesabaran

Kritik keras disampaikan akun Ewhyn melalui media sosial. Ia melontarkan protes terhadap manajemen PLN ULP Ampana dan mempertanyakan kesiapan perusahaan dalam mengantisipasi gangguan, khususnya jika berkaitan dengan pemeliharaan mesin di PLTU Sabo.

“Manajemen PLN Ampana yang paling buruk!” tulis Ewhyn.

Ia juga mempertanyakan kemungkinan penggunaan pembangkit cadangan, termasuk opsi menyewa pembangkit tambahan apabila memungkinkan secara teknis dan operasional. Menurutnya, pemadaman berkepanjangan berpotensi merugikan pelaku UMKM dan menghambat aktivitas ekonomi masyarakat.

“Kami menuntut transparansi total,” tulisnya.

Ewhyn turut mendesak audit terhadap anggaran dan tata kelola pemeliharaan PLN. Namun, dugaan terkait pengelolaan anggaran tersebut tetap perlu diperiksa berdasarkan data dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Berdasarkan catatan yang dihimpun media ini, alasan peningkatan keandalan listrik disebut telah disampaikan pada masa kepemimpinan kepala PLN ULP Ampana sebelumnya, termasuk saat Rahman Gani dan Erdhi Dwy Cahyo menjabat.

Kini, di bawah kepemimpinan kepala ULP yang baru, penyebab teknis pemadaman belum terkonfirmasi secara resmi. Belum ada penjelasan terbuka apakah gangguan bersumber dari pembangkit, peralatan kelistrikan, jaringan distribusi, pekerjaan pemeliharaan, atau faktor teknis lainnya.

Dalam kondisi ini, PLN perlu memberikan penjelasan terbuka kepada publik mengenai pekerjaan yang dilakukan, target penyelesaian, serta langkah antisipasi agar pelanggan tidak terus menanggung dampaknya.

Sebab, pemeliharaan semestinya menjadi bagian dari upaya meningkatkan keandalan listrik, bukan alasan yang terus berulang tanpa kepastian penyelesaian di mata pelanggan.

Bukan hanya itu, keluhan juga datang dari akun Fatima Siti yang meminta perhatian Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid dan Presiden Prabowo Subianto. Ia menyoroti kondisi mesin PLN yang menurutnya kerap mengalami kerusakan hingga berdampak pada pasokan listrik kepada masyarakat.

Kekesalan serupa disuarakan warga di wilayah Sansarino dan sekitarnya melalui media sosial. Mereka mempertanyakan pelayanan PLN yang dinilai belum memberikan kepastian di tengah pemadaman berulang.

“Wey PLN, ngana kira torang ini tidak mo hidup pake listrik?” demikian penggalan unggahan warga yang menggambarkan kekesalan masyarakat.

Keluhan tersebut semakin memperburuk citra pelayanan PLN ULP Ampana di mata publik. Warga mulai kehilangan kesabaran karena harus berulang kali menghadapi listrik mati-hidup tanpa kepastian kapan gangguan benar-benar berakhir.

Bagi masyarakat, persoalannya sederhana: torang butuh listrik yang stabil, bukan terus-menerus baku tunggu kapan menyala dan kapan padam lagi.

Pemda dan DPRD Jangan Cuma Jadi Penonton

Kondisi ini patut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una dan DPRD. Jika keluhan terus bermunculan, langkah konkret diperlukan untuk meminta penjelasan langsung dari manajemen PLN ULP Ampana, termasuk mengenai penyebab gangguan, rencana perbaikan, dan strategi menjaga pasokan listrik.

Masyarakat juga berhak mengetahui sejauh mana kesiapan sistem cadangan PLN dalam mengantisipasi gangguan. PLN harus membuka ruang komunikasi yang jelas kepada pelanggan, bukan membiarkan warga terus bertanya-tanya tanpa kepastian.

Jika kondisi ini terus berulang tanpa langkah penanganan yang konkret, dampaknya bisa semakin fatal. Kerugian masyarakat berpotensi bertambah, aktivitas usaha terganggu, dan kepercayaan publik terhadap pelayanan PLN semakin merosot.

“Torang sebagai pelanggan tentu berharap ada perubahan nyata, bukan hanya penjelasan pemeilharaan terus , Kalau ada yang perlu dibenahi, sampaikan langkah dan targetnya. Jangan sampai masyarakat terus dirugikan tanpa mengetahui kapan pelayanan listrik kembali normal.”tegas warga

Hingga berita ini diterbitkan, penyebab teknis pemadaman listrik tersebut masih menunggu konfirmasi resmi dari pihak PLN ULP Ampana. Redaksi terus berupaya menghubungi pihak terkait untuk memperoleh klarifikasi dan penjelasan mengenai penyebab gangguan serta langkah penanganan yang dilakukan.