Tojo Una-una — Warga Ampana, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, mulai mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) eceran di sejumlah SPBU maupun di warung. Kondisi ini menambah daftar persoalan yang dirasakan masyarakat di tengah keluhan mengenai pemadaman listrik dan distribusi air bersih.

Pantauan media ini pada Selasa, 13 Oktober 2026, menunjukkan sejumlah warung yang biasa menjual bensin eceran di sepanjang wilayah Ampana terlihat kehabisan stok. Kondisi tersebut membuat warga kesulitan mencari bensin ketika membutuhkannya.

Seorang sumber mengatakan pada media ini , sulitnya mencari bensin sudah dirasakan sejak malam sebelumnya. Kalaupun tersedia, harga bensin dalam botol kecil disebut mencapai Rp18 ribu.

“Tadi malam sulit cari minyak. Kalau ada pun, harganya di jual 1 botol kecil mencapai Rp18 ribu,” ujar sumber tersebut, Selasa (13/10/2026).

Kelangkaan bensin eceran ini memicu keluhan warga, terutama karena masyarakat masih menghadapi persoalan pelayanan dasar lainnya. Di media sosial, seorang warganet meluapkan kekecewaannya terhadap kondisi yang dirasakan di Ampana.

“Kenapa bensin so stenga mati di Ampana ini, lengkap suda torang punya penderitaan ini. PLN padam mati terus, PDAM air tidak bajalan,” tulis seorang warganet.

Keluhan tersebut menggambarkan keresahan sebagian warga yang berharap kebutuhan dasar, mulai dari listrik, air bersih, hingga bahan bakar, dapat terpenuhi dengan baik.

Meski demikian, penyebab sulitnya mendapatkan BBM eceran di sejumlah warung tersebut belum dapat dipastikan. Perlu penelusuran lebih lanjut untuk mengetahui apakah kondisi ini berkaitan dengan pasokan dari tingkat distributor, distribusi ke pengecer, atau faktor lainnya.

Sampai berita ini diturunka Belum ada keterangan dari Pihak terkait, termasuk pengelola SPBU dan instansi yang membidangi distribusi energi, mengenai kondisi pasokan BBM di Ampana agar masyarakat memperoleh informasi yang jelas dan tidak berspekulasi.

Warga berharap ketersediaan BBM kembali normal sehingga aktivitas sehari-hari tidak semakin terganggu oleh persoalan kebutuhan dasar yang datang silih berganti.